10 Perbedaan SMP-SMA di Negeri VS Swasta (Sedikit Pencerahan dalam Memilih Sekolah)

Assalamu’alaikum wr.wb.

Hello guys.. seperti judulnya, Rasiva ingin bercerita soal pengalaman Rasiva selama jadi anak sekolah, which is school is unforgettable part of live ever, dan mungkin barangkali ini bisa sedikit membantu adik adik dan para orangtua yang sedang mempertimbangkan kelanjutan pendidikan anaknya.
Rasiva sebenarnya nggak nyadar banget. Dari TK-SMA, bahkan sampai mau masuk kuliah sekarang, pola sekolah Rasiva itu selang-seling, like..

TK                  : Swasta (2002-2004) => Jakarta
SD                   :
Negeri (2004-2010) => Jakarta – Bogor
SMP                :
Swasta (2010-2013) => Bogor
SMA               :
Negeri (2013-2016) => Bogor

Ini sebenarnya nggak direncanakan sama sekali, tapi entah jadi lucu banget kelihatannya. :v
So, I know how the difference enough. Banyak sekali perbedaan sekolah di negeri dan swasta yang penting untuk diketahui.

Rasiva percaya bahwa sekolah yang paling bagus hanyalah sekolah negeri adalah mitos, karena kualitas pendidikan suatu lembaga tak bergantung dari apakah dia negeri atau swasta. Semua itu relative, tergantung dari manajemen sekolah masing-masing.

Ada banyak factor yang bisa menjadi pertimbangan dalam memilih sekolah, seperti tujuan akhir sekolah yang ingin dicapai (gampang kuliah, ingin cepat kerja, menggali passion, ingin menjadi pribadi yang lebih baik, atau gabungan diantaranya), lingkungan pergaulannya, kualitas gurunya, kurikulum dan bahan ajarnya, keaktifan ekskulnya, fasilitasnya, manejemen sekolahnya, akomodasinya, biayanya, dll,

Honestly, semua komponen itu bisa bagus dan ada di beberapa sekolah swasta, but not at all. Bisa juga bagus di beberapa sekolah negeri, but also not at all.

As always, Rasiva akan menuliskan topic ini 70% berdasarkan pengalaman pribadi pure selama Rasiva sekolah di Bogor + pengamatan terhadap sekolah lain yang Rasiva jumpai, yang 30% nya di match dengan beberapa artikel yang Rasiva baca di internet. Ini mungkin bisa berbeda disetiap sekolah, yang berarti nggak semua negeri seperti ini, dan nggak semua swasta seperti itu. But I’m gonna trying to make it neutral as possible.
Oke.. berikut ini 10 perbedaan sekolah di negeri dan swasta berdasarkan…
1.  Kurikulum dan bahan ajar
2.  Kualitas mengajar guru
3.  Manajemen sekolah  dan Kepemilikan
4.  Fasilitas
5.  Keaktifan dan Keberagaman Latar Belakang Sosial Murid
6.  Image di Kalangan Ortu
7.  Seragam
8.  Pergaulan & Tingkat tawuran antar pelajar
9.  Biaya
10. Peluang diterima PTN via jalur rapot

Mana ya yang COCOK untukmu?


#1 Kurikulum dan Bahan Ajar


illustration by http://salamedukasi.com

Ini perbedaan yang cukup mendasar menurut Rasiva. Sebenarnya untuk isi kurikulumnya sendiri nggak ada perbedaan yang cukup jauh, sih. Mungkin hanya ada perbedaan jumlah mata pelajaran (kalau ada) yang menjadi suatu karakter tersendiri, khususnya untuk sekolah swasta.

Sebelumnya Rasiva mau kasih tau buat yang mungkin belum tau, apa sih itu kurikulum? Jadi, yang namanya kurikulum itu adalah perangkat mata pelajaran (mengenai suatu bidang keahlian) yang diajarkan dan harus dikuasai si pelajar.

So, kurikulum itu penting sekali, karena ini seperti target belajar kalian. Apa yang harus kalian capai / bisa setelah mempelajari mapel atau sekolah disitu.

Contoh, misal kita belajar biologi. Seperangkat hal-hal yang harus kalian kuasai setelah kalian mempelajari itu (kurikulumnya) adalah…
– Bisa memahami dan menjelaskan bagaimana sistem pernapasan manusia.
– Bisa memahami dan menjelaskan sistem peredaran manusia
dan lain-lain….

See? Bahkan kalau kalian tau kurikulumnya aja, kalian nggak perlu mempelajari apalagi menghafal semua-muanya. Kalian bisa tinggal mendalami apa yang tertulis di kurikulum, karena itulah tujuan kalian belajar. That’s why diakhir belajar atau semester, ada yang namanya evaluasi berupa ujian akhir atau harian, untuk mengukur seberapa banyak kurikulum yang telah kamu pahami dan kuasai.

Back to topic, perbedaan kurikulum SMP-SMA negeri dan swasta….

Kurikulum SMP-SMA Negeri biasanya memakai kurikulum nasional (buatan pemerintah), sedangkan kurikulum SMP-SMA Swasta biasanya memakai kurikulum nasional plus, yaitu campuran antara kurikulum buatan pemerintah dan tambahan (karakteristik) yang dibuat sekolah swasta itu sendiri.

Berbicara soal kurikulum, Rasiva rasa sangat menarik, karena kalau kalian tahu, kurikulum itu ada banyak ragamnya. Beda kurikulum, beda juga “bentukan” muridnya nanti. Jadi, untuk para orangtua, masalah tujuan kurikulum ini harus sangat-sangat diperhatikan, menurut Rasiva. (Referensi soal macam-macam kurikulum, bisa dibaca DISINI)

Perbedaan kasusnya, Rasiva ambil contoh dari pengalaman sendiri…

Waktu sekolah di negeri, as you know, kita pake kurikulum 2013 pada saat itu (dan menurut Rasiva hasilnya jadi nggak jelas banget :’v *mungkin karena efek sekolah Rasiva yang belum siap) programnya jadi kegiatan belajar berpusat pada siswa. Kita lebih banyak diskusi, sementara guru hanya sebagai fasilitas (pasif). Upacara, nyanyi lagu Indonesia raya, masuk dari senin-jumat, tapi pulang sore (untuk K2013), dan kegiatan lainnya yang semua sekolah negeri lain juga lakuin (standardnya).

Di swasta yang pake K2013, kata temen Rasiva juga sama aja. Cuma perbedaannya selama Rasiva di swasta dulu dan kata temen Rasiva sekarang, banyak program seru lain seperti sholat dhuha bareng-bareng, English day, One day one ayat, nggak ada upacara, dan satu hari khusus ekskul. Setiap smp-sma swasta bisa punya program yang beda-beda. Bisa ada tambahan pelajaran bahasa mandarin, perancis, dsb. Bisa nggak ada upacara dan kegiatan pramukanya, dsb. That’s why kenapa disebut kurikulum nasional yang ada plus nya.

Sementara untuk bahan ajarnya…

Bahan ajar SMP-SMA Negeri sudah disediakan sama pemerintah, walau nggak semuanya. (kita tinggal minjem aja), sedangkan bahan ajar SMP-SMA Swasta semua bisa disediakan oleh sekolah (tapi harus beli), maupun beli diluar sekolah (toko buku, dsb atas saran guru mata pelajarannya.

Dan menurut Rasiva kalau dibilang enakan yang mana, sebenarnya itu relative.

Rasiva termasuk orang yang “senang” baca buku kalau memang “menyenangkan”. If you know what I mean. Kalau hanya melihat dari segi biaya, tentu negeri jadi yang lebih enak. Tapi, kalo melihat dari segi kualitas penyampaian dan bobot isi buku itu jadi relative.

Terkadang, honestly, nggak semua buku yang dikasih gratis itu “menyenangkan” untuk dipahami. Membaca yang menyenangkan dalam konteks Rasiva disini adalah… kualitas dari sebuah buku dalam menyampaikan dan mengemas sebuah teori secara sistematis (di satu sisi juga kalo materinya menarik lebih menyenangkan pastinya, hehe).

Misal, ada sebuah buku dengan kumpulan materi yang terdiri dari penjelasan-penjelasan terhadap materi itu. Kadang-kadang, penulis suka lupa ngejelasin hal-hal mendasar/konsep (istilah-istilah) yang sebenarnya harus dipahami lebih dulu sebelum memulai tahap berikutnya. (kadang, ini yang suka bikin kita susah ngerti dan buntu kalau soalnya di utak-atik) dan ada juga beberapa buku yang masih typo, soal anulir (tidak ada jawaban di pilihan), tidak memberikan ilustrasi yang benar terhadap penjelasan yang seharusnya diberi ilustrasi, dsb.

Honestly, Rasiva nggak bilang semua buku gratisan seperti itu. Dulu (waktu masih sekolah) juga banyak buku-buku pemerintah yang bagus dan paling penting tujuan penulisannya sesuai sama kurikulumnya. Kalau guru itu berpedoman sama satu buku itu bisa enak sih entar buat ulangan. Jadi, balik lagi itu semua relative. Kalau misal, kalian merasa ada kekurangan seperti yang Rasiva jelasin diatas, kalian juga bisa beli bahan ajar tambahan yang lebih memenuhi kebutuhan kalian.

Terus gimana kalo buku yang disediain sekolah swasta? Lagi-lagi itu relative. Kalau dulu sih di SMP Swasta aku kebetulan dapat buku yang worth it dan semuanya udah memenuhi kebutuhan belajar aku. Mungkin karena gurunya nggak neko-neko juga, haha. Waktu itu semua buku yang disediain untuk dibeli dari SMP adalah buku-buku terbitan erlangga dan buku-buku pelajaran mereka adalah buku-buku yang professional dan bagus menurut Rasiva.

 Kesimpulan,
Negeri 0 VS 0 Swasta
(masih seri karena relative)

 


#2 Kualitas Mengajar Guru


illustration by http://elpsa.ikipmataram.ac.id

Dari kualitas mengajar guru Rasiva bisa bilang banyak perbedaannya. But I don’t know it just how I feel. Mungkin memang nggak semuanya seperti yang Rasiva alami. Tapi dulu…

Waktu di SMA negeri Rasiva, cukup banyak guru-guru yang izin nggak jelas. Telat. Menghilang tanpa kabar. Banyak jam kosong. Ngasih tugas, tapi nggak dinilai. Ngasih tugas, dinilai, tapi nggak dikoreksi. Ngasih nilai hanya formalitas (lebih melihat citra seorang murid, tapi nggak pure memahami kemampuan murid itu). Ngajar seperti ngajar tembok atau robot, dan lain sebagainya… *peace, semoga guru SMA Rasiva nggak baca XD wkwk

Tapi ini realita yang terjadi di masa SMA Rasiva, dan mungkin banyak pelajar yang meng-hore-kan, but I’m not one of them. ‘-‘

Karena buat apa gue bayar SPP tiga ratus ribu sebulan, kalau jam pelajarannya kurang berkualitas ‘-‘

Rasiva ngerti gaji guru honorer sekarang nggak begitu sejahtera di beberapa tempat (termasuk tempat Rasiva), atau mungkin PNS itu sibuk banget, atau mungkin lagi ada juga yang nyari-nyari tambahan dengan ngajar ditempat lain, ambil job lain, atau gimana dengan “menggunakan” jam yang seharusnya adalah tanggung jawabnya mengajar sebagai guru atau menghilang tanpa kabar.

But whatever with that, yang harus disadari kan mengajar merupakan tanggung jawab besar seorang guru yang akan dipertanggungjawabkan didepan yang maha kuasa. So, unfortunately you have doing that things to me, but thank you so much I can be autodidact student cause of that. ‘-‘

Mungkin salah satu hal ini terus terjadi dari tahun ke tahun, selain karena murid negeri dalam satu kelas banyak banget (karena banyak peminat), mungkin juga karena kurang adanya pembenahan dari pemerintah terhadap manajemen / control kinerja guru.

Entah apa hanya formalitas, tapi logikanya kan pemerintah nggak selalu always control kinerja guru di suatu sekolah setiap hari dan bisa jadi satu sekolah itu kekurangan guru (bisa dilihat dari satu guru yang ngajarnya macem-macem dalam satu sekolah).

Sementara kepala sekolah nggak bisa sembarangan mengangkat dan memberhentikan guru, karena yang bisa merekrut dan memecat guru dari sebuah sekolah hanya pihak pemerintah.

Faktor lain juga bisa karena perubahan kurikulum dari KTSP jadi kurikulum 2013, yang tidak dibarengi dengan persiapan yang cukup dari pihak sekolah. Ditambah lagi karena satu kelas, muridnya banyak ini (sekitar 35-40 an murid per kelas), bisa dibilang guru jadi hanya lebih memperhatikan siswa-siswi yang menonjol, seperti anak yang memang pintar (berprestasi) dan anak yang memang nakal (bermasalah).

Berbeda lagi waktu dulu di SMP swasta Rasiva

Rasiva merasa hampir nggak ada satu haripun jam pelajaran nggak ada guru. Guru selalu on time, kalau telat paling 5-10 menit (itu juga selalu minta maaf). Dan Rasiva tahu, setiap guru yang nggak masuk tanpa izin yang jelas atau telat bakal didenda sama pihak sekolah.

How fair is that… Jadi kalo murid dihukum telat, begitupun sama dengan guru di SMP swasta Rasiva dulu.

Kualitas ngajarnyapun Alhamdulillah baik. Mereka selalu ngasih ulangan yang mereka udah jelasin atau ada dibuku catatan. Class is very enjoyful. Kalau dikasih soal analisapun, teorinya sebelumnya udah dijelasin semua sama mereka. Kalau untuk guru sih entah, Rasiva lebih suka yang di SMP swasta Rasiva terus nilai dan ranking akademis Rasiva juga lebih bagus waktu di SMP, unfortunately :’v.

Mungkin lagi-lagi, karena control kinerja gurunya yang lebih ketat, murid yang hanya 20-35an per kelas, dan peraturan guru yang dibuat ketat sama ketua yayasannya (tapi kalau ini sih tergantung manajemen sekolah masing-masing.)

Soalnya setiap hari kan ketua yayasan selalu ada disekolah. Jadi, kalau keliatan, ada laporan, atau apa-apa, pokoknya ketua yayasannya tau aja kalo guru itu nggak bener, guru itu bakal dikasih peringatan / bisa langsung di pecat dan ganti sama guru baru. I’m not kidding, some teacher will distracted if they can’t qualified in my school.

Setiap semester di SMP juga suka dikasih lembar penilaian guru dan staff sekolah gitu. Jadi nanti, guru juga punya ranking dan rewardnya tersendiri. Beda dengan waktu di SMA-ku nggak ada kebebasan untuk berpendapat dan menilai kinerja guru, tapi sikap kita terus dipantau karena tuntutan nilai sikap dari kurikulum 2013 ‘-‘ I think that’s not fair enough.

Sekali lagi Rasiva ingatkan, ini cuma pengalaman pribadi Rasiva dan nggak semuanya begitu. Untuk negeri mungkin gurunya bisa lebih bagus dengan sekolah negeri favoritnya, sedangkan untuk swasta relative tergantung dari quality profile sekolah swasta itu sendiri.

Kesimpulan,
Negeri 0 VS 0 Swasta
(masih seri karena relative)

 


#3 Manajemen Sekolah dan Kepemilikan


illustration by http://computechsystem.com

Perbedaan mendasar adalah…

Manajemen sekolah SMP-SMA negeri kekuasaan tertingginya ada di pemerintah, sedangkan manajemen sekolah SMP-SMA swasta kekuasaan tertingginya ada di ketua yayasan atau kelompok tertentu.

Dan ini menjadi relative saat sekolah itu mendapat predikat favorite dan atau saat sekolah swasta memiliki quality profile yang bagus juga (tergantung akhlak masing-masing individu si empunya sih, hehe).

Menurutku, dampak pertama dari perbedaan kekuasaan tertinggi itu adalah quality controlnya. Seperti yang udah aku ceritakan cukup jelas di poin kedua. Logikanya, pemerintah kan nggak selalu mengontrol suatu sekolah setiap hari, beda dengan ketua yayasan yang lebih sering ada (itu juga kalau ketua yayasannya benar).

Yang kedua, karena quality control kurang dampaknya juga berpengaruh ke terlalu banyak formalitas. Seperti formalitas dalam membuat penilaian rapot, absen guru, dan sebagainya.

Lagi-lagi, itu semua tergantung dari kejujuran, control kinerja, kualitas, dan kuantitas pihak yang bersangkutan. Tapi, Rasiva kali ini lebih prefer ke swasta, karena manajemennya yang rata-rata lebih terfokus by ketua yayasan / kelompok tertentu, daripada manajemen sekolah negeri by pemerintah, dimana mereka harus mengontrol banyak sekolah dalam wilayahnya.

Kesimpulan,
Negeri 0 VS 1 Swasta

 


#4 Fasilitas


illustration by https://www.wcdsb.ca

Untuk poin ini yang cukup gereget yang pengen Rasiva bahas.

Faktanya, sekarang SMP swasta Rasiva udah ada sport center, GOR, perpustakaan, masjid, jajanan yang superrrr macem-macem, kolam renang + perosotan dari yang untuk TK – dewasa, lapangan basket, futsal, free wifi, mobil antar jemput be-rute, dan lain-lain.

Mungkin banyak juga swasta yang sudah memanjakan para muridnya dengan beragam fasilitas. And I really love that.

Dan menurut Rasiva, itulah satu “kualitas” yang harus diberikan oleh sekolah, setelah kita membayar “harga” pada mereka.

Terus bayarnya pasti mahal dong ya, Ras? Kalau lebih mahal dari negeri, pasti iya. Tapi, kalo dipikir-pikir nggak mahal-mahal amat kok. Rasiva waktu SMP cuma bayar SPP 90 ribu per bulan, dan seratus belasan ribu untuk SMA/SMKnya (kalo biaya masuknya Rasiva lupa berapa hehe). But I’m not joking, SPP segitu udah dapat segala macam fasilitas itu semua (mungkin udah naik sekarang).

Itupun juga masih bisa dapet beasiswa dan kalo di SMP Rasiva pribadi, gaada yang namanya dikeluarin dari sekolah karena nggak bisa bayaran (bisa negosiasi). But I don’t know in other school.

Tapi yang pasti, Rasiva selalu percaya bahwa dibalik sebuah harga yang kita berikan selalu ada kualitas yang sepadan. Jadi, nggak rugi-rugi amat sih. Yang rugi kalo kita sekolahnya nggak bener, atau sekolahnya ngasih harga mahal tapi kualitas dan fasilitasnya standard, pfffttt…

Kalo waktu di SMA negeri Rasiva, fasilitasnya ada seperti taman, mushola, lapangan bola, basket, perpus (walau bukunya gak begitu lengkap), free wifi, dan lain-lain. Jujur, memang nggak sebagus waktu SMP sih, untuk fasilitasnya.

Mungkin karena factor manajemen sekolah yang alokasi dananya dari pemerintah, jadi semua serba standard aja. Beda dengan swasta yang manajemennya bisa bebas bereksplorasi mau ngapainin sekolah dan murid-muridnya, dan beberapa swasta menurut Rasiva bisa terlihat wah dan kadang “gue banget”.

Kesimpulan,
Negeri 0 VS 2 Swasta

 


#5 Keaktifan dan Keberagaman Latar Belakang Sosial Muridnya 


illustration by https://www.wego.co.id

Sekarang untuk latar belakang sosial muridnya, yang berarti ini soal lingkungan. Soal temen-temen kalian yang akan mempengaruhi personality kalian juga.

Menurut dan sepengalaman Rasiva, anak sekolah negeri cenderung lebih aktif dan beragam dari anak swasta.

Kenapa? Mungkin, salah satunya karena letak geografis sekolah negeri yang kebanyakan berada di pusat kota yang membuat pikiran mereka jadi lebih terbuka, daripada sekolah yang ada di daerah terpencil. Bisa juga karena biaya negeri yang terjangkau semua kalangan, sementara swasta hanya satu kalangan (but not at all). Bisa juga karena mereka (anak negeri) udah punya tradisi yang kuat, dan lain sebagainya.

Ya, tradisi. Menurut Rasiva, setiap sekolah memiliki tradisi mereka tersendiri yang menjadikan perilaku mereka berbeda-beda, begitu juga dengan kadar keaktifan muridnya.

Kalau lingkungan swasta… sebenarnya nggak begitu sulit sih. Rasiva masih gampang aja bergaul (walau katanya pergaulan swasta itu sulit, karena hanya ada satu golongan social mayoritas). Tapi memang, Rasiva akui, latar belakang social sekolah swasta itu sangat khas dan cenderung pada satu agama, tergantung agama si empu alias ketua yayasannya (seperti sekolah Rasiva yang khas dengan kegiatan islaminya *walau murid-muridnya nggak se-akhlakul karimah itu si wkwk).

Kali ini, Rasiva lebih prefer ke negeri untuk latar belakang sosialnya. Karena dengan keberagaman, kita bisa mengenal lebih banyak “pelajaran” dibalik kehidupan teman kita yang macam-macam. Dan bagi yang tipikal minderan (nggak pede jadi minoritas) atau bosenan (sama tipe orang yang itu itu aja), sepertinya lebih cocok sekolah di negeri.

Kesimpulan,
Negeri 1 VS 2 Swasta

 


#6 Image di Kalangan Ortu Kebanyakan


illustration by http://smk-teknomedikaplus.com

Untuk image, seperti yang kita dan para orangtua kebanyakan anggap…

Sekolah di negeri lebih keren, daripada swasta.

Ini sebenernya anggapan yang awam banget sih, menurut Rasiva. I tottaly not agree with that. Beda lagi kalau kalian berangkat sekolah tujuannya buat gaya / pencitraan :v

Tapi Rasiva tau, faktanya memang banyak orangtua yang suka memaksakan anaknya untuk sekolah di negeri, apalagi sekolah favorit, sampai berani “bayar kursi” alias nyogok untuk masukin anaknya.

Rasiva hanya menyayangkan orangtua yang berpikir seperti itu…

Kesimpulan,
Negeri 2 VS 2 Swasta

 


#7 Seragam


 

illustration by http://majalahouch.com

 

Buat yang suka nonton drama sekolah orang korea / jepang yang seragamnya variatif dan lucu-lucu, kayaknya kalian akan seneng sekolah di swasta, karena as you know, sekolah di swasta seragamnya variatif dan beda dari biasanya.

Di SMP swasta Rasiva sendiri, setiap hari Rasiva ganti seragam. Dari seragam putih kotak-kotak (desain sekolah), putih-biru/abu (seragam nasional) + rompi (desain sekolah), satu stel blazer/jas coklat (desain sekolah), baju muslim (desain sekolah), batik (desain sekolah), olahraga (desain sekolah), sama pramuka (standard).

Kalau negeri lebih simple, paling kan, putih abu/biru (seragam nasional), baju muslim (seragam nasional versi syar’i), pramuka (standard), batik (desain sekolah), dan olahraga (desain sekolahi). Eh tapi sekarang udah ada rebo nyunda (di Bogor) jadi ada tambahan seragam kebaya / pangsi, lucu deh.

Ini dampak dari manajemen sekolah juga sih. Kalo swasta, seragam satu sekolah sama yang lain beda-beda. Kalau negeri, seragamnya sama semua, karena udah diatur pemerintah. (bed nama sekolah sama batik doang paling yang bedain) But mostly, Rasiva lebih suka seragam ala ala swasta sih hehehe.

Kesimpulan,
Negeri 2 VS 3 Swasta

 


#8 Pergaulan & Tingkat Tawuran antar Pelajar


 

illustration by https://www.edunews.id

 

Nah, ini nih yang paling banyak jadi perbincangan. ‘-‘

Jujur, di SMA Rasiva sendiri termasuk sekolah yang demen banget tawuran. Kalau SMP jarang banget, tapi SMA/SMK nya lumayan sering sih.

Menurut Rasiva, nggak ada sih sekolah yang 100% bersih dari pergaulan negative yang menjurus tawuran. Semua sekolah berbasis menengah (SMP, SMA, STM, SMK) pasti ada kecenderungan “kesitu” nya ‘-‘, tapi gatau sih dengan MA/MTS/Sederajat atau berbasis madrasah lainnya.

Yang penting, kita pinter-pinter menjaga diri aja dari pergaulan negative itu. (Kalau bisa mempengaruhi yang baik, silahkan. Tapi jangan sampai terpengaruhi ke yang buruk jadinya)

Oiya, balik lagi ke negeri VS swasta, dalam hal ini Rasiva lebih prefer ke negeri untuk tingkat tawuran antar pelajar yang tinggi.

Pendapat ini didasari karena Rasiva melihat berita-berita dikoran yang sering bermunculan dan tentu sekolah negeri Rasiva sendiri ‘-‘

Mungkin ini juga karena pengaruh murid yang kurang perhatian orangtua (broken home) dan kebudayaan yang dibuat para pelajarnya terdahulu  yang sangat kental (cenderung kontroversi dengan sekolah lain).

Apalagi mungkin, pengaruh latar belakang sosial yang beragam dan beberapa kumpulan solidaritas itu juga membuat link anak negeri lebih banyak dari anak swasta. Banyak link, banyak kontroversi juga, biasanya ‘-‘

Kalau swasta sih memang ada beberapa kasus tawuran yang Rasiva tau, tapi masih nggak sebanyak negeri (di kota Rasiva) dan jarang denger tawuran swasta yang ampe masuk Koran dan TV.

Kesimpulan,
Negeri 2 VS 4 Swasta

 


#9 Biaya


 

illustration by http://osbm.nc.gov

 

Nah, ini yang menjadi pertimbangan besar para orangtua saat memilih sekolah untuk anaknya dan kenapa banyak ortu yang pengen anaknya di negeri, karena…

Mostly, biaya sekolah negeri lebih murah dari swasta.

Tapi, entah sekolah swasta Rasiva nggak begitu mahal sih rasanya, mungkin karena kualitasnya lebih banyak daripada harganya (jadi rasanya sepadan).

But I suggest to think again, sebelum memilih sekolah, jangan hanya mencari yang biayanya murah, tapi pentingkan juga kualitas dan tujuan dari sekolah itu sendiri.

Tetap hati-hati dengan sekolah yang dikit-dikit bayar. Karena Rasiva sendiri juga nggak suka dengan lembaga pendidikan yang bayarnya doang mahal, tapi kualitasnya standard. Di swasta dan negeri juga ada beasiswa kok biasanya. Keringanan biaya itu tergantung sekolah masing-masing (untuk swasta), kalau negeri, nggak usah takut di D.O karena kurang biaya, karena biasanya bisa negosiasi (SMA) dan untuk SD-SMP biayanya gratis ditanggung pemerintah.

Oiya, Rasiva juga mau ngasih tau apa aja biaya-biaya yang biasanya dikeluarkan (perbandingan biaya negeri-swasta) dalam tabel berikut…

Perbedaan Negeri Swasta
Biaya masuk sekolah (UDP + Semester Awal) Bayar Bayar
Biaya seragam Bayar Bayar
Biaya buku Gratis Bayar
Biaya UTS & UAS Gratis Bayar
Fasilitas pendukung lain Gratis Ada gratis, ada bayar
Biaya Praktek dan Tugas Sebagian modal Modal sendiri
Biaya perlengkapan sekolah Modal sendiri Modal sendiri

Kesimpulan,
Negeri 3 VS 4 Swasta

 


#10 Peluang Diterima di PTN via Jalur Rapot


 

illustration source on watermark

 

Kalau kalian berminat masuk Perguruan Tinggi Negeri, mungkin harus mempertimbangkan lagi. Karena…

Peluang diterima di PTN sekolah negeri lebih besar dari sekolah swasta.

Apalagi untuk sekolah negeri favorit, untuk keterima di PTN melalui jalur SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk PTN) alias jalur rapotnya itu lebih besar peluangnya.

Rasiva nggak tau sih kenapa begitu dan bagaimana penilaiannya. Karena itu bener-bener hokyhokyan. Yang nggak ranking pun bukan berarti nggak bisa diterima di PTN dan jurusan favorit, mengalahkan yang lebih pinter. It’s really gambling I would say.

Tapi yang pasti, entah kenapa murid sekolah negeri favorit, banyak aja rezekinya di PTN favorit. So, if you really want to go to some favorites college, like ITB, UGM, UNDIP, exc. You have to think about it again.

But, Rasiva bukan orang yang segitu pengennya sih masuk PTN favorit *ngeles, bilang aja nggak keterima Ras :’v wkwk

Tapi bener, Rasiva percaya satu hal, bahwa nama universitas itu nggak menjamin kesuksesan dan kualitas diri seseorang. Banyak pertimbangan yang harus diperhatikan, lebih dari sekedar pamor suatu nama.

Kesimpulan akhir,
Negeri 4 VS 4 Swasta [SERI!!!]

 

Yeeeaaayyyyyy…. akhirnya jadi seri wkwkwk

Yah… kesimpulan akhirnya memang nggak ada yang menang ataupun kalah. Baik itu negeri, maupun swasta, semua punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Setiap orang bisa cocok-cocokan terhadap suatu pendidikan. Jadi, kamu bisa cari yang bener-bener cocok sama kamu dan passion-mu aja.

Buat Rasiva, sebagus apapun tempat belajarnya, kalau tidak disupport dengan kemauan belajar dan action yang baik, akan sangat menyayangkan biaya yang udah dikeluarkan orangtua yang sudah menyekolahkan kita.

Soalnya kan ortu kita nggak mungkin seger terus, bro… Sometimes, when they can’t survive, we have to take a part to help the situation.

Disini Rasiva nggak berbicara perbedaan kuliah negeri dan swasta (karena belum kuliah btw) dan itu lebih kompleks untuk dijelaskan ‘-‘

Bukan juga soal sekolah berbasis madrasah atau kejuruan (cause I’m not a student of them). Rasiva disini benar-benar hanya memaparkan perbedaan bagi kalian yang mempertimbangkan ingin masuk SMP-SMA negeri atau swasta. Dan kasus-kasus yang Rasiva jelaskan adalah yang Rasiva benar-benar alami dan lihat selama Rasiva sekolah di Bogor (mungkin ini bisa sedikit berbeda disekolah kota kalian)

 

For last, maaf kalau ada salah-salah kata atau penulisan. Maaf kalau ada yang kurang berkenan. Semoga bermanfaat~~

See ya in my next article ^^

#peaceup \v/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s